Sia-siakah??

Saya baru saja ikut ujian salah satu mata kuliah. Wah, harus banyak-banyak beristighfar nih. Ya Allah…saya kok jadi merasa usaha saya selama satu semester ini sia-sia ya. Saya merasa sangat tidak maksimal mengerjakan soal saat ujian tadi.

Ya, Rabbi…Kumohon hilangkan rasa putus asa dalam hatiku,

Ya, Rabbi…Kumohon masukkan rasa syukur dalam setiap nafasku.

Jangan jadikan aku hamba yang kufur nikmat

Jadikanlah aku hamba yang berusaha sekuat mungkin

Dan mensyukuri hasilnya seikhlas mungkin

Karena tidak pernah ada yang sia-sia

Semoga…

Amiin.

Aku Ingin Kembali…

Rasanya aku sudah lupa kapan terakhir kubaca dzikir al-ma’atsuratku. Sepertinya aku juga lupa bagaimana sejuknya bicara tentang Dia. Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, mengapa aku semakin menjauh. Jiwaku gersang, hatiku kosong. Pikir dan tubuhku turut meletih dalam kehampaan yang tak bertepi.

Sholatku… mengapa aku menjadi lalai akan dirimu. Padahal, kaulah yang akan menjadi penolongku di hari yang mana manusia satu sama lain saling melupakan. Hari di mana semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Mengapa aku mesti lalai hanya karena urusan dunia yang tak ada secuil kuku pun perbandingannya dengan akhirat.

Duhai… aku simpan di mana cita-cita hidup yang telah kurajut, kurangkai, kudesain, kuselesaikan mulai dari saat aku mengenalmu. Apakah aku akan kembali ke titik nol lagi?

Aku ingin kembali pada cita-cita dan semangat hidupku.

Aku juga ingin kembali pada DZat tempat kembali dengan penuh kebanggaan.

Aku ingin kembali padaMu , duhai Tuhan ku.

Doa Sang Pembelajar

Duhai Sang Pemilik Waktu,

Lapangkanlah waktu-Mu untukku

Aku hendak mencari ilmu-Mu.

Duhai Sang Pengatur Segala Urusan,

Mudahkanlah urusanku, baik di dunia dan di akhirat.

Duhai Yang Maha Membolak-balik hati,

Hadapkanlah hatiku lurus uth pada cinta-Mu.

Duhai Sang Pemilik Jiwa,

Janganlah Engkau Golongkan Aku ke dalam golongan

Orang-orang yang kerdil jiwanya.

Izinkanlah pikiranku mengembara

Menembus langit,

Menyelami bumi,

Mencari arti dari hakikat keagungan-Mu.

Ridhoilah hatiku untuk senantiasa berdzikir

Dan merendah di hadapan-Mu.

Janganlah Engkau menjadikan nafsu membelenggu gerak tubuhku.

Janganlah Engkau jadikan syaithan memasung hati dan jiwaku.

Izinkanlah semangatku terus menyala

Mengobarkan api perjuangan

Ke dalam hati setiap pemuda

Yang di dalamnya ada cinta,

Cinta suci hanya untuk Engkau Allah dan Rasul-Mu.

JIKALAH

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa, sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa, sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti diumbar sepuas jiwa, sedang menahan diri adalah lebih berpahala

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti tenggelam di dalamnya, sedang taubat adalah lebih utama

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa ingin dikukuhi sendiri, sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunianya, sedang dengannya manusia diminta untuk memimpin dunia dengan sejahtera

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya mengapa ingin memiliki dan selalu bersama, sedang memberi lebih bamyak menuai arti

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti dirasakan sendiri, sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan, sedang begitu banyak kebaikan bias dicipta

(Sebuah nasihat di sela-sela kuliah)

Memiliki Kehilangan

Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada

batinmu tetap merasa masih memilikinya

rasa kehilangan hanya akan ada

jika kau pernah merasa memilikinya

pernah kah kau mengira kalau dia kan sirna

walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa

rasa kehilangan hanya akan ada

jika kau pernah merasa memilikinya (Memiliki Kehilangan: Letto)

Dua minggu terakhir ini, saya sedang suka sekali dengan lirik dan irama lagu Memiliki Kehilangan nya Letto di atas. Entahlah mana yang lebih saya sukai, liriknya atau iramanya. Saya rasa keduanya memiliki keindahan tersendiri sehingga ketika dipadukan makna lagu ini mampu menarik saya ke dalam putaran rasa yang dimaksud oleh penulis dan pengarangnya.

Saya paling suka dengan bagian lirik yang ini: rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya. Saya pikir…iya juga ya. Selama ini kita sering merasa kehilangan sesuatu karena kita memang pernah merasa memiliki sesuatu itu. Padahal, sebenarnya apa sih yang dimiliki oleh kita sebagai manusia ini di dunia ini? Nol alias Tidak ada. Semua yang ada di jagat raya ini adalah milik Sang Penguasa sejati, ialah Allah SWT, Tiada Ilah selain Dia. Lalu, saya jadi bertanya-tanya sendiri (pertanyaan retoris yang sudah saya miliki jawabannya namun belum saya pahami maknanya) sebenarnya selama ini kita merasa kehilangan atas apa? Sesuatu yang hanya kita rasa kita miliki kah? Loh…jadi, mungkin bisa dianalogikan dengan pemilik bangunan yang digusur karena tidak memiliki surat tanda kepemilikan tanah, namun ngotot marah-marah dan tidak terima karena selama puluhan tahun ini ia sudah tinggal di atas tanah yang hendak dikosongkan tersebut. Phew…kan jadinya tidak bisa dibela juga secara hukum. Eh, omong-omong, saya tidak bermaksud ikut campur permasalahan tersebut looh. Soalnya, sekarang kan sedang banyak sekali kasus serupa di bumi pertiwi ini. Saya hanya menggunakannya sebagai analogi topik pembicaraan kita kok…:p

Kasus si pemilik bangunan tersebut juga mewakili perasaan merasa memiliki sehingga kehilangan seperti yang terdapat di lirik lagu Letto di atas looh. Kalau begitu, izinkan saya menyimpulkan sebagai berikut: sebenarnya perasaan kehilangan tidak perlu ada jika kita mengakui sepenuh hati dan mengimplementasikan dalam perbuatan keimanan kita, yaitu bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah milik Tuhan semesta alam, ialah Allah SWT, Tiada Ilah Selain Dia.

Jadi, saya rasa perasaan kehilangan itu sebenarnya kita sendiri yang membangun, terlepas dari bahwa merasa kehilangan terhadap sesuatu itu sangat manusiawi, mengingat kita adalah makhluk Tuhan yang bernama manusia yang memang punya sifat-sifat seperti itu. Betul tidak? Boleh saja merasa kehilangan karena memang ada banyak sisi positifnya juga, asal tidak berlebihan dan melupakan kodrat yang sebenarnya. Hehehe…Sisi positifnya apa? Ya…misal merasa kehilangan sahabat. Artinya kita pernah merasa memiliki sahabat dan menurut saya itu perasaan yang positif sebab bersahabat bisa membangun kemampuan kita dalam bersosialisasi dan menunjukkan karakter diri yang sebenarnya. Juga ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari bersahabat, bukan? Asal bersahabatnya juga berada pada koridor yang benar…:p Orang yang tidak punya sahabat bisa kita sebut sebagai makhluk yang sangat egois dan individualis sekali atau bahkan terlalu menutup diri. Uuups…stop!jangan sampai kebabablasan nih. Topiknya jadi kemana-mana. Yup, back to the first topic. Jadi, merasa kehilangan sahabat menurut saya memiliki sisi positif asal tidak berlebihan. Kalau sudah mulai berlebihan, ingat iman apa yang sudah janji kita bangun di dalam hati…Ingat bahwa segala sesuatu itu milik Tuhan, ialah Allah SWT, Tiada Ilah selain Dia…:D

Malu Bertanya Sesat Di Jalan, Banyak Bertanya….Jangan-jangan Bodoh

Sedikit tergelitik dengan pesan yang disampaikan oleh (lagi-lagi…:p) seorang dosen saya suatu ketika, saat kuliah. Entah mengapa tiba-tiba topik bahasan Bapak Dosen bergeser ke masalah bagaimana mendidik anak dengan baik. Beliau berpesan agar jika kami telah berkeluarga kelak dan memiliki anak-anak penyejuk jiwa…jangan pernah mematikan kreativitas dan daya kritis anak dengan melarangnya banyak bertanya, meski seringkali kita telah merasa bosan mendengarnya…

Saya jadi teringat sewaktu saya duduk di kelas 4 SD dahulu. Saya termasuk anak yang sedikit-sedikit bertanya. Saya yakin pasti guru saya saat itu sudah merasa bosan sekali atau mengambil jalan berpikir saya saat itu, Ibu Guru ingin membuat saya lebih percaya diri dan mandiri dalam mencari tahu mengenai segala sesuatu. Suatu ketika, saya maju ke depan kembali dan langsung bertanya. Sejujurnya saya benar-benar tidak menduga dengan jawaban ibu guru saat itu. Saya selalu berpikir bahwa ibu guru pasti akan selalu menjawab pertanyaan saya. Saya tidak menyangka sekali, saat itu Ibu guru berkata pada saya, “Reni, kamu jangan bertanya terus. Ibu yakin kamu sudah mampu. Jawaban kamu benar kok.”

Memang masa-masa itu saya sedang senang meyakinkan jawaban soal-soal yang saya kerjakan pada ibu guru. Setelah mendengar jawaban dari ibu guru tadi, saya jadi merasa sangat bodoh sekali. Sejak saat itu, saya malas bertanya kembali. Bahkan hingga saat ini, persepsi tersebut masih terbentuk. Saya selalu merasa khawatir bahwa pertanyaan saya akan terkesan bodoh dan suatu saat mungkin akan ditegur oleh orang lain. Jangan-jangan dengan cara yang lebih menyakitkan dari ibu guru saya saat itu. Yah, terlepas dari keinginan ibu guru agar saya lebih percaya diri, saya rasa cara menegur yang terkesan frontal pada anak usia 9-10 tahun saat itu adalah kurang bijak. Ditambah lagi dengan budaya di masyarakat kita yang cenderung kurang memacu anak-anak untuk tumbuh kreatif dan fokus pada detail, saya rasa akan semakin sulit membentuk generasi-generasi bangsa yang kritis.

Nah, buat teman-teman yang sudah menikah, akan mempunyai putra/putri, atau yang masih single dan insya Allah suatu saat nanti menikah dan berkeinginan mempunyai putra/putri juga, saya rasa pesan dari Bapak Dosen saya tersebut perlu diingat. Jangan pernah mematikan kreativitas dan daya kritis anak dengan melarangnya banyak bertanya, meski seringkali kita telah merasa bosan mendengarnya…

Be good parents…

Pemerintah…Haruskah Aku Percaya Padamu??

Pagi ini di sebuah stasiun tv saya menyaksikan dua orang pencopet di sebuah acara konser musik di gerebek massa. Sebenarnya kasus seperti ini sudah kerap kali terjadi di negara kita. Tindakan main hakim sendiri ini mau tidak mau (harus diakui) menunjukkan ketidakpercayaan rakyat terhadap kinerja lembaga hukum di Indonesia. Ketika rakyat merasa pemerintah sudah tidak mampu lagi memberikan kehidupan yang nyaman, aman, dan sejahtera, maka satu-satunya jalan adalah menyelesaikan semua permasalahan sendiri.

Nah, gara-gara berita tersebut, saya jadi teringat kuliah yang disampaikan oleh salah seorang dosen saya di kampus. Pada waktu itu beliau mengajukan pertanyaan kepada kami, “Menurut kalian, mengapa orang saat ini lebih banyak memilih membeli dan mengendarai motor?”

Kemudian beliau meminta jawaban dari kami satu per satu. Sebagian anak berargumen bahwa alasan orang memilih mengendarai motor adalah “agar lebih hemat” Atau ada juga yang menjawab, “Supaya lebih cepat sampai ke tujuan…”. Macam-macam jawaban, namun berujung dua pernyataan tersebut.

“Menurut kalian itu melambangkan apa??” tanya Dosen kami lagi.

“Eh??…” banyak kepala-kepala bingung. Sejujurnya kami tidak tahu akan dibawa kemana arah pertanyaan tadi. Yah, seperti biasa kami selalu tidak bisa menebak arah pembicaraan Bapak Dosen jika beliau sudah melontarkan pertanyaan-pertanyaan cerdas dengan bahasa yang terlalu tinggi buat kami. Aaaah…alangkah ilmu kami masih teramat dangkal.

“Artinya, rakyat negeri ini sudah tidak mempercayai kinerja pemerintahnya lagi.” Kami lega. Akhirnya Bapak Dosen telah menjawab pertanyaan cerdasnya yang membuat kami sedikit ketar-ketir.

“Semua orang sudah mulai bersikap egois. Yang diutamakan adalah kepentingannya terlebih dahulu sebab mereka sudah yakin bahwa tidak ada gunanya mengikuti apa yang dikatakan pemerintah karena toh pemerintah tidak pernah mampu memberikan kesejahteraan bagi mereka.” Ehm…sebenarnya tidak tepat seperti itu pernyataan bapak dosen. Yah, saya menangkap kira-kira seperti itulah intinya..:p…(Lah,,?? Setiap orang kan bisa punya persepsi yang beda-beda. Bagaimana kalau persepsi saya salah?? Iya juga sih, tapi yah…insya Allah bener lah ya…hehehe).

Saya jadi berpikir..benar juga pernyataan Bapak. Tanpa sadar, saya dan keluarga juga sudah bersikap seperti itu. Kami tidak lagi memikirkan apa dampaknya jika kami membeli motor bagi lingkungan, bagi orang lain, dan bagi negara ini. Yang terpenting adalah kami mampu memenuhi kebutuhan kami. Peduli amat nantinya jalan-jalan jadi semakin macet, sumber minyak bumi semakin terkuras, atau apa lah. Yang penting kami dulu…huh!

Mungkin dua kasus yang saya sebutkan di atas hanya merupakan salah dua contoh kecil dari sikap tidak percaya masyarakat terhadap pemerintah lagi. Saya yakin, masih ada banyak contoh nyatanya di negeri ini. Nah, kalau sudah seperti itu, siapakah yang mesti segera membenahi diri? Hanya Pemerintah sajakah? atau masyarakat pun harus ikut serta? Saya rasa, saya lebih setuju yang kedua. Bagaimana dengan Anda??:)