Shaf Shalat Bolong-bolong

Sekarang sudah masuk malam ke-14 di bulan Ramadhan. Setiap kali tarawih ada hal yang mengganggu pikiran saya, terutama ketika berjamaah di masjid. Alhamdulillah sejak shalat tarawih pertama kali pada malam Ramadhan yang ke-5, saya baru satu kali tidak ke masjid. Hehehe…sebenarnya ada niat balas dendam juga. Bagi saya ini adalah Ramadhan Balas Dendam. Balas dendam karena saya merasa pada bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, ibadah saya tidak maksimal. Saya tidak mau menyesal di bulan Ramadhan tahun ini.

 

Nah, ada pun hal yang mengganggu pikiran saya setiap kali tarawih adalah masalah keteraturan shaf shalat. Sebagian besar jamaah akhawat sepertinya belum mengetahui bahwa sesuai hadits Rasul SAW, sebaik-baik shaf wanita itu adalah di belakang. Jadi, setiap kali sampai di masjid, kami pasti diminta mengisi shaf yang paling depan. Padahal shaf yang paling belakang belum penuh. Selain itu, di shaf belakang biasanya dipenuhi anak-anak. Alhasil, shalatnya malah jadi kurang khusyuk karena biasanya anak-anak suka ribut dan tidak shalat. Astaghfirullah…sungguh tidak ada niatan apa-apa di sini. Murni ingin berbagi.

 

Selain itu, setiap jemaah akhawat biasanya membawa sajadah sendiri yang ukurannya terkadang lebih dari cukup untuk dua orang atau satu orang plus setengah (ngerti kan maksudnya?). Masalahnya adalah, ketika iqomat dikumandangkan, jamaah yang sebagian ibu-ibu tetap bergeming di atas sajadahnya masing-masing. Nah, karenanya di sela-sela antar jamaah sering terdapat kekosongan ruang yang sebenarnya kalau setiap jamaah mau merapatkan barisannya, kekosongan tersebut masih bisa diisi oleh beberapa orang lagi.

 

Yang menjadi ganjalan saya adalah saya sering kali merasa tidak enak untuk mengajak atau mengingatkan para ibu tersebut merapatkan barisannya. Sebab terkadang ditolak dan sering kali dikacangin. Hehehe…makin tak enak hati pula lah saya. Sementara itu, saya sendiri tidak nyaman berada dalam barisan yang bolong-bolong macam itu. Tapi, mau merapatkan juga bingung. “Ke kanan atau ke kiri ya?” Habisnya, masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Jadi, gimana ya? Ada yang punya solusi untuk saya?

 

Saya sendiri tidak tahu bagaimana kondisi di barisan ikhwan. Tapi, sepertinya dari hasil curi-curi saya (plizzz…jangan negative thinking ya?), barisan jamaah laki-laki jauh lebih rapih dan teratur. Hmm….sepertinya saya memang harus menguatkan tekad.

Majapahit Punya Gajah Mada, Indonesia Punya Siapa?

Sebenarnya siapa sih Gajah Mada itu? Sehebat apakah ia hingga masih banyak dikenang orang sampai saat ini? Namanya banyak diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia bahkan menjadi nama dari salah satu perguruan tinggi  terbaik di negeri ini. Kalau saat SMP dan SMA teman-teman menyimak pelajaran Sejarah dengan baik, insya Allah tahu siapakah Gajah Mada itu. Hanya, saya jamin mungkin sedikit dari teman-teman yang tahu cerita detail mengenai Gajah Mada. Nama Gajah Mada mungkin perlu diingat sekadar untuk menjaga agar jika saat ujian ada soal yang keluar berkaitan dengan tokoh tersebut, teman-teman (termasuk saya juga sih…J) bisa mengerjakannya.

Jadi, siapakah Gajah Mada itu? Gajah Mada atau dengan gelar kerennya Mahamantrimukya Amangkubumi Mahapatih Gajah Mada adalah seseorang yang punya andil paling besar terhadap kekuasaan sebuah kerajaan di masa lampau yang luas wilayah kekuasaannya hampir sama dengan Nusantara saat ini (dari Sabang sampai Merauke) bahkan meliputi Singapura (Tumasek) dan Malaysia. Sebuah kerajaan yang dengan harga diri dan keberaniannya pada masa lalu pernah mempermalukan seorang utusan dari bangsa Tar tar yang kala itu sangat berambisi untuk meluaskan kekuasaannya hingga ke bumi pertiwi. Kerajaan apakah itu? Ialah Majapahit. Sebuah kerajaan yang rajanya berasal dari trah penguasa sekaligus pendiri kerajaan Singosari, yaitu Ken Arok. Untuk nama Ken Arok ini pasti banyak teman-teman yang ingat dengan kisahnya (kalau saya sih, begitu dengar nama Ken Arok, langsung teringat Ken Dedes… hehehe).

Jadi, sebenarnya, apa sih istimewanya seorang Gajah Mada? Gajah Mada awalnya hanyalah seorang prajurit biasa yang tidak memiliki kedudukan istimewa di Majapahit. Ia mulai dikenal saat berpangkat bekel dan menjadi pimpinan dari sebuah pasukan elit kerajaan bernama Bhayangkara (Hayooo!! Ada yang berhasil menghubungkan nama ini dengan sesuatu?). Pada masa itu, Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Sri Jayanegara sedang mengalami kudeta akibat makar yang dilakukan oleh para Dharmaputra Winehsuka yang dipelopori oleh seseorang bernama Ra Kuti. Gajah Mada yang kala itu belum dikenal oleh siapa pun mampu menunjukkan bakti dan kesetiaannya kepada negara dengan melindungi Sang Prabu dari kejaran pasukan yang dipimpin oleh Ra Kuti. Bersama pasukan Bhayangkara yang dipimpinnya, akhirnya ia berhasil menggullingkan kembali Ra Kuti yang pada masa itu sempat menguasai Istana Kerajaan dan bahkan membunuhnya. Karena jasa dan pengabdiannya itu, Prabu Sri Jayanegara kemudian menaikkan pangkatnya dari yang semula hanya seorang Bekel menjadi seorang Patih di Kahuripan kemudian di Daha.

Kisah terus berlanjut hingga akhirnya Sang Prabu meninggal karena diracun oleh seorang tabib kerajaan yang diam-diam menyimpan sakit hati akibat cintanya pada salah seorang sekar kedaton adik dari Sang Prabu ditampik. Selama setahun, untuk meredam gejolak, Gajah Mada menyarankan agar kekuasaan dipegang terlebih dahulu oleh Ibu Suri Rajapadni sebelum akhirnya diwariskan kepada kedua putrinya secara bersamaan, ialah Prabu Putri Sri Gitarja Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Karena prestasi dan pengabdiannya, pada masa kepemimpinan kedua Prabu Putri tersebut akhirnya ia ditunjuk untuk menggantikan mahapatih sebelumnya, yaitu Mahapatih Arya Tadah. Saat ditunjuk itulah, Gajah Mada kemudian menyatakan sumpah Hamukti Palapa nya. Sejak itu, kehidupan Gajah Mada jauh dari gebyar duniawi demi satu cita-citanya, menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Majapahit.

“Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa. Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.” (Gajah Mada Madakaripura Hamukti Moksa, Langit Kresna Hariadi, 2007)

Dengan membaca kisah tersebut, kita sebagai bangsa Indonesia bisa sedikit berbangga. Kita pernah menjadi sebuah bangsa yang hebat di masa lalu. Semua itu karena peran seseorang dengan visi, seperti Gajah Mada. Saya jadi teringat dengan satu-satunya mata kuliah, selain Tugas Akhir yang saya ambil semester ini, yaitu Berpikir Visioner. Dosen saya dalam kelas tersebut bercerita tentang berbagai negara dan organisasi yang berhasil maju dan memiliki nama di dunia karena memiliki orang-orang yang bervisi jauh ke depan. Tidak sekadar bervisi saja, tapi juga diikuti dengan tindakan dan komitmen. Vision without action is dreaming. Action without vision is “tukang”..hehehe…J

Gajah Mada yang pada masa itu belum mengenal istilah visi, nyatanya jauh lebih memahami visi itu sendiri. Ia mampu membayangkan ke depan akan dibawa kemana negara Majapahit yang diasuhnya tersebut.

Vision is a reality that has not come yet come to be; it is not a dream. Vision of future is more than just a plan or a goal, it is a picture of what the future should and could like; plans and goals operate as vehicles for making that picture a reality.”

Visinya menginspirasi Gajah Mada dan bahkan menyebabkan ia rela menukar kebahagiannya di dunia demi tercapainya visi tersebut. Ia memilih Hamukti Palapa dan meninggalkan Hamukti Wiwaha hingga akhirnya Hamukti Moksa. Andaikan kita memiliki Gajah Mada-Gajah Mada yang lain di bumi pertiwi ini…Gajah Mada-Gajah Mada muda yang bervisi dan memiliki loyalitas pada bangsa dan negaranya. Yang mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi (PPKn banget, yak…?). Saya yakin kejayaan Majapahit pada masa itu bisa kita peroleh kembali.

Well, ada banyak pelajaran dan nilai-nilai yang bisa dipetik dari kisah Gajah Mada. Jika merasa tertarik menyimak kisahnya secara lebih mendetail, baca saja bukunya. Judulnya Gajah Mada. Pengarangnya Langit Kresna Hariadi. Ada lima seri loh. Termasuk kisah tentang Perang Bubat. Dijamin pasti akan banyak tercengang dan berdecak kagum. Sungguh, menurut saya, Indonesia benar-benar membutuhkan pemimpin yang berjiwa ksatria dan setia, seperti Gajah Mada. Kalau Majapahit punya Gajah Mada, Indonesia punya siapa…? Saya berharap itu adalah kita. Amiin…J Tapi kalau boleh milih, saya sih inginnya jadi sekar kedaton. Hahaha…=D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.