Cahaya di atas Cahaya

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An-Nuur 35)

I do Love These Aayats

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

1. Mereka menanyakan padamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, “Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman. 2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. 3. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kamu berikan kepada mereka. 4. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. 5. Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, meskipun sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. 6. Mereka membantahmu (Muhammad) tentang kebenaran setelah nyata (bahwa mereka pasti menang), seakan-akan dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab kematian itu). 7. Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar-benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya. 8. Agar Allah memperkuat yang baik (Islam) dan menghilangkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. 9. (ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” 10. Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Alah. Sungguh Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Q.S. Al-Anfal 1-10)

Coba deh teman-teman cari tahu makna dari ayat-ayat di atas. Keren banget lho…sampai merinding. hehe….:P

Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya…

Ingin Jatuh Cinta…;)

Saya perlu berterimakasih kepada tim nasyid Edcoustic Bandung…^^ karena sudah membuat saya akhir-akhir ini kembali menginginkan untuk jatuh cinta…lagi dan lagi sampai ketagihan akut…

Perasaan jatuh cinta yang tidak pernah menimbulkan sakit, seperti ketika kita jatuh cinta pada sesorang atau sesuatu. Perasaan jatuh cinta yang bisa menjadi begitu abadi. Yang tidak perlu membuat kita bertepuk sebelah tangan atau merasa dikhianati, meski tahu bahwa Sang Kekasih tidak hanya mencintai diri ini seorang.

Jatuh cinta yang ini hanya mengenal kata bahagia, tidak ada kecewa apalagi khawatir bahwa Sang Pujaan Hati akan menampik perasaan hati. Jatuh cinta yang ini hanya mengenal satu pemikiran, yaitu positive thinking dan itu mutlak. Tak ada keragu-raguan dan sejatinya tidak perlu ada keragu-raguan.

Hasrat cinta ini dapat membuat orang yang sedang jatuh cinta mencintai banyak hal dengan ikhlash dan pada kadar yang tepat. Hasrat cinta ini dapat membuat orang yang sedang jatuh cinta jadi dicintai oleh lingkungan sekitarnya, tidak hanya manusia…wOw…^^

Hmm…jatuh cinta pada apakah itu? Begitu ideal sekali. Siapa pun pasti ingin, siapa pun pasti mendamba. Karena hakikatnya setiap manusia di dunia ini hidup ingin mencari bahagia. Namun mereka khawatir jika salah menempatkan cinta, mereka akan tersakiti (tentu saja, tak ada yang ingin tersakiti, atau ada? :p).

Jadi, jatuh cinta pada siapa? Jawabannya, jatuh cinta pada Tuhan kita, teman…ya…pada Tuhan kita…pada Allah SWT, Tiada Ilah selain Dia. Sungguh indah sekali. Hatimu akan berbunga-bunga dengan abadi. Takkan berubah jadi duka. Jika pun berubah, bukan karena Sang Kekasih, tapi karena diri kita sendiri. Dan Sang Kekasih akan tetap membuka hati-Nya untuk kita, kapan pun, dimana pun, setiap kali kita menyadari salah dan ingin kembali. Hoho…jadi, seperti yang telah saya katakan, tak perlu ragu dan khawatir dikhianati. Nah…nah…justru kitalah yang perlu selalu introspeksi diri, apakah kita yang mengkhianati cinta-Nya? Duuh, betapa tidak tahu malunya diri ini…

Tuhan betapa aku malu

Atas semua yang Kau beri

Padahal diriku terlalu sering membuat-MU kecewa
Entah mungkin karna ku terlena

Sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali

Agar aku kembali
Dalam fitrahku sebagai manusia

Untuk menghambakan-MU
Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapan-MU

Aku ingin mencintai-MU setulusnya,

Sebenar-benar aku cinta
Dalam do’a

Dalam ucapan

Dalam setiap langkahku

Aku ingin mendekati-MU selamanya
Sehina apapun diriku
Kuberharap untuk bertemu dengan-MU, ya Rabbi

Oleh: Edcoustic

So, saya hanya ingin memberitahukan ini, teman. Mari kita bangun keinginan yang kuat untuk jatuh cinta. Jangan khawatir, meski Dia membalas cinta saya, cinta-Nya padamu takkan berkurang sedikit pun ^^. Kita akan dicintai dengan penuh tanpa merasa terbagi. Dan aku takkan pernah menjadi sainganmu…^^v

Mari…mari, jatuh cinta lagi…:D

Jagalah Allah, Allah menjagamu

Saya baru saja mendapatkan materi tentang hadits arba’in yang ke-19 ini.

Dari Abu Al-Abbas Abdullah bin Abbas ra. Berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi saw. Lalu beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya Dia akan selalu bersamamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering. (HR Tirmidzi. Dia berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

Dalam riwayat lain dari Tirmidzi dengan redaksi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan senantiasa mendapatiNya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu di saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.”

Hadits ini membuat saya selalu berpikir positif, berani, dan percaya diri sebab yakin selalu ada Allah di dekat saya yang melihat, menjaga, dan menuliskan takdir-takdir terbaiknya untuk saya.

Hadits ini juga mengajarkan saya untuk senantiasa menggantungkan harapan dan pertolongan hanya pada Allah. Tidak ada selain Dia.

Semoga…semoga…saya berharap saya bisa menerapkan pesan-pesan Rasulullah saw. tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin…bagaimana dengan Anda? I hope so..

Sisa Ruang Harapan

Tuhan, dalam keramaian ini, aku merindukanMu

rindu untuk menekuri ayat-ayatMu

rindu untuk berkali-kali mengalirkan kata cinta padaMu

 

Tuhan, dalam sepi ini, aku juga menginginkanMu

ingin Kau senantiasa mengisi kekosongan dalam hampa jiwaku

ingin agar Kau senantiasa memelukku erat

 

Tuhan, dalam galau ini, aku sangat menantiMu

hadir menghapus resah yang berbasah-basah

hadir menjadi labuhan pengharapanku

 

Tuhan, lama, tanpa kusadari langkahku perlahan menjauhiMu

ternyata bukan keriangan tak berkesudahan yang kudapat

tapi kecewa tak berujung yang menimbulkan penyesalan

 

Aku harap selalu masih ada ruang tersisa di sisiMu bagiku

agar tak patah arang jiwa ini

sebab tau selalu ada kasih sayang dan ampunanMu

 

Tuhan, selalu selalu dan selalu kata ini yang akan kuucapkan setelah perjalanan panjang banjir peluh dan air mata

Aku ingin kembali

Terimalah…

Amiin

 

 

 

To Dance With My Father Again

Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high and dance with my mother and me and then
Spin me around ‘til I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure I was loved

If I could get another chance, another walk, another dance with him
I’d play a song that would never ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again

When I and my mother would disagree
To get my way I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me, yeah yeah..
Then finally make me do just what my moma said
Later that night when i want to sleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he would be gone from me

If i could steal one final glance, one final step, one final dance with him
I’d play a song that would never ever end
‘Cause I’d love, love, love, love
To dance with my father again

Sometimes I’d listen outside her door
And I’d hear how mama cried for him
I pray for her even more than me
I pray for her even more than me

I know I’m praying for much too much
But could You send back the only man she loved
I know you don’t do it usually
But dear Lord she’s dying
To dance with my father again
Every night I fall asleep and this is all I ever dream

by Celine Dion

This song makes me remember the man in my life, Bapak. This song makes me cry.

I really miss him. The message in this lyric has a similarity with my story with him. Some days before he left me forever, I had danced with him for the first and the last time. Bapak. I’ll always pray for you. Hope Allah SWT will give us a chance to meet again in the most beautiful place ever had. aamiin

Saya takut kehilangan semangat itu…

Buat yang sudah selesai mengerjakan TA, sudah sidang dan sedang menunggu wisuda atau bahkan sudah wisuda bulan Juli yang lalu, pasti sudah tenang sekali. Sementara itu, saya masih berkutat dengan pikiran dan lika-likunya TA. Sejujurnya, saya jadi ingin bertanya pada kalian, adakah saat ketika teman-teman kehilangan semangat saat mengerjakannya?

Sejujurnya saya merasa takut kehilangan semangat itu. Takut, ketika otak sudah mentok..pikiran sudah mogok, masih bisa jalan lagi ga ya? Hahaha…maafkan saya yang rada mellow. Tapi, alhamdulillah sampai saat ini, semangat saya masih baik. Hmm…sepertinya harus dipupuk agar tumbuh subur, sehingga tidak kekurangan gizi.

Shaf Shalat Bolong-bolong

Sekarang sudah masuk malam ke-14 di bulan Ramadhan. Setiap kali tarawih ada hal yang mengganggu pikiran saya, terutama ketika berjamaah di masjid. Alhamdulillah sejak shalat tarawih pertama kali pada malam Ramadhan yang ke-5, saya baru satu kali tidak ke masjid. Hehehe…sebenarnya ada niat balas dendam juga. Bagi saya ini adalah Ramadhan Balas Dendam. Balas dendam karena saya merasa pada bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, ibadah saya tidak maksimal. Saya tidak mau menyesal di bulan Ramadhan tahun ini.

 

Nah, ada pun hal yang mengganggu pikiran saya setiap kali tarawih adalah masalah keteraturan shaf shalat. Sebagian besar jamaah akhawat sepertinya belum mengetahui bahwa sesuai hadits Rasul SAW, sebaik-baik shaf wanita itu adalah di belakang. Jadi, setiap kali sampai di masjid, kami pasti diminta mengisi shaf yang paling depan. Padahal shaf yang paling belakang belum penuh. Selain itu, di shaf belakang biasanya dipenuhi anak-anak. Alhasil, shalatnya malah jadi kurang khusyuk karena biasanya anak-anak suka ribut dan tidak shalat. Astaghfirullah…sungguh tidak ada niatan apa-apa di sini. Murni ingin berbagi.

 

Selain itu, setiap jemaah akhawat biasanya membawa sajadah sendiri yang ukurannya terkadang lebih dari cukup untuk dua orang atau satu orang plus setengah (ngerti kan maksudnya?). Masalahnya adalah, ketika iqomat dikumandangkan, jamaah yang sebagian ibu-ibu tetap bergeming di atas sajadahnya masing-masing. Nah, karenanya di sela-sela antar jamaah sering terdapat kekosongan ruang yang sebenarnya kalau setiap jamaah mau merapatkan barisannya, kekosongan tersebut masih bisa diisi oleh beberapa orang lagi.

 

Yang menjadi ganjalan saya adalah saya sering kali merasa tidak enak untuk mengajak atau mengingatkan para ibu tersebut merapatkan barisannya. Sebab terkadang ditolak dan sering kali dikacangin. Hehehe…makin tak enak hati pula lah saya. Sementara itu, saya sendiri tidak nyaman berada dalam barisan yang bolong-bolong macam itu. Tapi, mau merapatkan juga bingung. “Ke kanan atau ke kiri ya?” Habisnya, masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Jadi, gimana ya? Ada yang punya solusi untuk saya?

 

Saya sendiri tidak tahu bagaimana kondisi di barisan ikhwan. Tapi, sepertinya dari hasil curi-curi saya (plizzz…jangan negative thinking ya?), barisan jamaah laki-laki jauh lebih rapih dan teratur. Hmm….sepertinya saya memang harus menguatkan tekad.

Majapahit Punya Gajah Mada, Indonesia Punya Siapa?

Sebenarnya siapa sih Gajah Mada itu? Sehebat apakah ia hingga masih banyak dikenang orang sampai saat ini? Namanya banyak diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia bahkan menjadi nama dari salah satu perguruan tinggi  terbaik di negeri ini. Kalau saat SMP dan SMA teman-teman menyimak pelajaran Sejarah dengan baik, insya Allah tahu siapakah Gajah Mada itu. Hanya, saya jamin mungkin sedikit dari teman-teman yang tahu cerita detail mengenai Gajah Mada. Nama Gajah Mada mungkin perlu diingat sekadar untuk menjaga agar jika saat ujian ada soal yang keluar berkaitan dengan tokoh tersebut, teman-teman (termasuk saya juga sih…J) bisa mengerjakannya.

Jadi, siapakah Gajah Mada itu? Gajah Mada atau dengan gelar kerennya Mahamantrimukya Amangkubumi Mahapatih Gajah Mada adalah seseorang yang punya andil paling besar terhadap kekuasaan sebuah kerajaan di masa lampau yang luas wilayah kekuasaannya hampir sama dengan Nusantara saat ini (dari Sabang sampai Merauke) bahkan meliputi Singapura (Tumasek) dan Malaysia. Sebuah kerajaan yang dengan harga diri dan keberaniannya pada masa lalu pernah mempermalukan seorang utusan dari bangsa Tar tar yang kala itu sangat berambisi untuk meluaskan kekuasaannya hingga ke bumi pertiwi. Kerajaan apakah itu? Ialah Majapahit. Sebuah kerajaan yang rajanya berasal dari trah penguasa sekaligus pendiri kerajaan Singosari, yaitu Ken Arok. Untuk nama Ken Arok ini pasti banyak teman-teman yang ingat dengan kisahnya (kalau saya sih, begitu dengar nama Ken Arok, langsung teringat Ken Dedes… hehehe).

Jadi, sebenarnya, apa sih istimewanya seorang Gajah Mada? Gajah Mada awalnya hanyalah seorang prajurit biasa yang tidak memiliki kedudukan istimewa di Majapahit. Ia mulai dikenal saat berpangkat bekel dan menjadi pimpinan dari sebuah pasukan elit kerajaan bernama Bhayangkara (Hayooo!! Ada yang berhasil menghubungkan nama ini dengan sesuatu?). Pada masa itu, Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Sri Jayanegara sedang mengalami kudeta akibat makar yang dilakukan oleh para Dharmaputra Winehsuka yang dipelopori oleh seseorang bernama Ra Kuti. Gajah Mada yang kala itu belum dikenal oleh siapa pun mampu menunjukkan bakti dan kesetiaannya kepada negara dengan melindungi Sang Prabu dari kejaran pasukan yang dipimpin oleh Ra Kuti. Bersama pasukan Bhayangkara yang dipimpinnya, akhirnya ia berhasil menggullingkan kembali Ra Kuti yang pada masa itu sempat menguasai Istana Kerajaan dan bahkan membunuhnya. Karena jasa dan pengabdiannya itu, Prabu Sri Jayanegara kemudian menaikkan pangkatnya dari yang semula hanya seorang Bekel menjadi seorang Patih di Kahuripan kemudian di Daha.

Kisah terus berlanjut hingga akhirnya Sang Prabu meninggal karena diracun oleh seorang tabib kerajaan yang diam-diam menyimpan sakit hati akibat cintanya pada salah seorang sekar kedaton adik dari Sang Prabu ditampik. Selama setahun, untuk meredam gejolak, Gajah Mada menyarankan agar kekuasaan dipegang terlebih dahulu oleh Ibu Suri Rajapadni sebelum akhirnya diwariskan kepada kedua putrinya secara bersamaan, ialah Prabu Putri Sri Gitarja Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Karena prestasi dan pengabdiannya, pada masa kepemimpinan kedua Prabu Putri tersebut akhirnya ia ditunjuk untuk menggantikan mahapatih sebelumnya, yaitu Mahapatih Arya Tadah. Saat ditunjuk itulah, Gajah Mada kemudian menyatakan sumpah Hamukti Palapa nya. Sejak itu, kehidupan Gajah Mada jauh dari gebyar duniawi demi satu cita-citanya, menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Majapahit.

“Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa. Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.” (Gajah Mada Madakaripura Hamukti Moksa, Langit Kresna Hariadi, 2007)

Dengan membaca kisah tersebut, kita sebagai bangsa Indonesia bisa sedikit berbangga. Kita pernah menjadi sebuah bangsa yang hebat di masa lalu. Semua itu karena peran seseorang dengan visi, seperti Gajah Mada. Saya jadi teringat dengan satu-satunya mata kuliah, selain Tugas Akhir yang saya ambil semester ini, yaitu Berpikir Visioner. Dosen saya dalam kelas tersebut bercerita tentang berbagai negara dan organisasi yang berhasil maju dan memiliki nama di dunia karena memiliki orang-orang yang bervisi jauh ke depan. Tidak sekadar bervisi saja, tapi juga diikuti dengan tindakan dan komitmen. Vision without action is dreaming. Action without vision is “tukang”..hehehe…J

Gajah Mada yang pada masa itu belum mengenal istilah visi, nyatanya jauh lebih memahami visi itu sendiri. Ia mampu membayangkan ke depan akan dibawa kemana negara Majapahit yang diasuhnya tersebut.

Vision is a reality that has not come yet come to be; it is not a dream. Vision of future is more than just a plan or a goal, it is a picture of what the future should and could like; plans and goals operate as vehicles for making that picture a reality.”

Visinya menginspirasi Gajah Mada dan bahkan menyebabkan ia rela menukar kebahagiannya di dunia demi tercapainya visi tersebut. Ia memilih Hamukti Palapa dan meninggalkan Hamukti Wiwaha hingga akhirnya Hamukti Moksa. Andaikan kita memiliki Gajah Mada-Gajah Mada yang lain di bumi pertiwi ini…Gajah Mada-Gajah Mada muda yang bervisi dan memiliki loyalitas pada bangsa dan negaranya. Yang mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi (PPKn banget, yak…?). Saya yakin kejayaan Majapahit pada masa itu bisa kita peroleh kembali.

Well, ada banyak pelajaran dan nilai-nilai yang bisa dipetik dari kisah Gajah Mada. Jika merasa tertarik menyimak kisahnya secara lebih mendetail, baca saja bukunya. Judulnya Gajah Mada. Pengarangnya Langit Kresna Hariadi. Ada lima seri loh. Termasuk kisah tentang Perang Bubat. Dijamin pasti akan banyak tercengang dan berdecak kagum. Sungguh, menurut saya, Indonesia benar-benar membutuhkan pemimpin yang berjiwa ksatria dan setia, seperti Gajah Mada. Kalau Majapahit punya Gajah Mada, Indonesia punya siapa…? Saya berharap itu adalah kita. Amiin…J Tapi kalau boleh milih, saya sih inginnya jadi sekar kedaton. Hahaha…=D

Susahnya menghilangkan amarah

Manusia itu manusiawi sekali jika pernah merasakan amarah. Namun, sebaik-baik manusia adalah ia yang dapat mengendalikan amarahnya. Dan…ternyata menahan amarah itu tidak semudah mengetikkan pesan sms melalui handphone (note: biasanya tidak berlaku untuk kakek, nenek, atau bahkan orang tua kita. Hihihi…oya ga berlaku juga buat yang ga punya handphone atau handphone nya lagi rusak). Kenyataannya bicara memang tidak semudah pelaksanaannya. Jadinya, kalau yang cuma bisa berteori akhirnya disebut OM DOEL (Omong Doang, Lu!!).

Nah, menahan amarah ini adalah salah satu dari banyak banget kelemahan saya. Ck…ck…ck…begini ngaku-ngaku muslimah, nih! Astaghfirullah…

Kesulitan dalam menahan amarah itu adalah kesulitan untuk mengendalikan agar amarah yang kendatinya sudah mendidih dan buihnya udah sampai ke ubun-ubun tidak meluap dan tumpah kemana-mana. Soalnya, kebayang donk kalau sampai tumpah kayak gimana. Yang pasti wajah saya yang cantik (hihihi,,,boleh donk narsis dikit. Ini kan blog saya..Hayo!! Siapa yang ga bisa terima?) bakal meleleh deh. Hiiii…ga kebayang. Belum lagi kalau tumpahannya itu mengenai bagian tubuh yang lain dan bagian tubuh orang lain yang ada di sekitar kita. Wah…tambah berabe. Wajah cewek cantik (ada gitu…?) atau cowok ganteng yang ada di sekitar saya dijamin ikut meleleh juga. Amarah akan membakar, melahap apa saja yang ada di dekatnya hingga tak bersisa seperti api yang membakar rumah-rumah beratap rumbia.

Saat amarah datang menyergap dan menguasai hati serta pikiran, saya mencoba mengingat pesan Rasulullah SAW. Yang intinya adalah “Jangan marah…Jangan Marah…Jangan Marah.” Terus Beliau SAW juga berpesan yang intinya begini “Jika engkau marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika dalam keadaan duduk belum hilang juga, maka berbaringlah.” Nah, masalahnya begini…suatu saat saya sedang marah sekali karena sesuatu hal. Aduh…pokoknya ga enak banget deh. Rasanya hati dan pikiran saya mendadak seperti dipenuhi barang-barang ga penting dari gudang tetangga. Penat dan sumpek sekali. Panas pula. Kemudian yang saya lakukan adalah mencoba untuk diam dan menghindari orang-orang. Yah, khawatirnya amarah yang udah mendidih di ubun-ubun saya tiba-tiba meluap dan mengenai orang-orang di sekitar saya. Saya masuk ke kamar. Kemudian duduk. Mencoba berpikir positif. Mencoba untuk tenang. Mencoba tersenyum. Tapi, anehnya bibir saya menjadi beku. Sulit sekali menariknya ke arah samping untuk menghasilkan senyum. Sulit sekali. Sementara itu, gumpalan-gumpalan awan hitam di hati saya belum juga mereda. Masih bergemuruh. Astaghfirullahal’azhim. Saya mencoba beristighfar. Tapi, masih juga belum mampu meredam amarah saya. Hingga saya teringat sesuatu hal. Sebenarnya saya adalah tipe orang yang saat marah, harus meluapkannya secara fisik. Entah lewat kata-kata dan atau perbuatan (mohon jangan berpikir yang tidak-tidak). Saya berpikir, saya tidak mungkin dan tidak akan berteriak. Saya harus bisa mengendalikan diri saya. Akhirnya, saya hanya punya satu pilihan. Saya melirik sekitar…ada tumpukan file referensi TA di samping saya. Saya harus melakukannya. Kalau tidak tidak akan selesai-selesai. Saya lempar tumpukan file itu ke arah dinding. Bertaburan semua lembaran-lembaran file itu. Tidak puas sekali, saya lempar sekali lagi. Tambah berantakan semuanya. Secara refleks, saya yang saat itu sedang duduk bersimpuh di depan dipan tempat tidur, mengepalkan tangan kemudian mengayunkan pukulan ke papan dipan tempat tidur tersebut sekuat tenaga. Kemudian emosi saya meluap. Namun bukan dalam bentuk tumpahan air panas yang mendidih berasal dari ubun-ubun. Emosi itu meluap melalui air mata. Saya menangis sejadi-jadinya dalam diam. Saya beristighfar dan merasakan bahwa istighfar saya benar-benar bermakna. Saat itu juga amarah saya hilang. Hilang menjadi sebuah penyesalan, mengapa harus marah. Dan…saya kembali dapat berpikir jernih.

Marah saya mereda, namun ada hal yang saya pertanyakan. Saya ini seorang wanita, seorang muslimah. Tetapi, mengapa untuk meredakan amarah, saya harus menyalurkannya secara fisik. Terutama dengan memukul (tentu saja bukan orang…kasihan juga kalau orang. Jadi, sasaran kemarahan saya). Dan…entahlah saya sendiri masih belum bisa memahami. Saya ingin mengubah kebiasaan tersebut. Saya ingin cara menyalurkan amarah yang lebih elegan, lebih feminim gitu looh…Ah, entahlah.

Ketika saya bilang ke salah seorang teman saya tentang kebiasaan saya tersebut, dia bilang: “Semoga kamu mendapatkan seorang suami yang sabar”. Ha? Saya jadi semakin berpikir betapa parahnya saya. Saya amini doa teman saya. Tapi, saya tetap ingin berubah. Hanya pertanyaannya adalah apakah kebiasaan itu salah? Entahlah…Mungkin saya perlu menanyakannya pada murobbi saya.

Oya, tentang file referensi TA yang saya hamburkan, sudah saya rapikan kembali. Hihihi…berani berbuat harus berani bertanggung jawab donk. Tentang tangan yang saya gunakan untuk memukul, jangan khawatir alhamdulillah tidak menyisakan sakit. Soalnya saya pake teknik karate. Jadi, ga sembarangan. Peace…!