Cikapundung Sayang, Cikapundung Yang Malang

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), ”Berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q. S. Ar-Ruum 41-42)

Jika memandang sungai Cikapundung yang tepat berada di depan kosan, saya sering kali merasa miris dan penasaran. Sebenarnya seperti apa sih rupa sungai yang yang kini berada di tengah pemukiman penduduk kota Bandung bagian utara tersebut.

Kalau sekarang sih, menurut saya tidak ada pemandangan indah yang bisa dinikmati lagi dari Cikapundung, kecuali gemerisik aliran airnya yang menenangkan hati. Itu pun seringkali dirusak oleh suara bundelan sampah yang dilempar ke sungai. Bahkan, tidak jarang pula terlihat, dari seberang kosan saya, penduduk yang tinggal di bantaran sungai tersebut melempar sampah dalam bungkusan karung. Woow…Mereka melakukannya dengan santai. Tentu saja, tinggal di kawasan tersebut selama puluhan tahun, membuang sampah ke sungai pastinya sudah menjadi ritual pagi, siang, sore, dan bahkan malam hari yang rutin dilakukan warga sepanjang bantaran sungai. Uwaaa….saya sendiri sering bergidik melihatnya dan sedikit merasa bersalah. Sebab tinggal di wilayah tersebut, meski tidak pernah membuang sampah secara langsung seperti kebanyakan penduduk sekitar bantaran, mau tidak mau harus mengakui kenyataan bahwa, limbah cair harian dalam ritual pembersihan diri dari anak-anak kosan termasuk saya, secara langsung dibuang ke sungai tersebut.

Tidak perlu jeli, di setiap sudut sungai, bisa dilihat ada banyak sampah yang berserakan. Kalau sudah begitu, dapat dipastikan bagaimana buruknya kondisi air di sungai tersebut. Namun, ironisnya, seringkali saya menemukan beberapa orang yang rutin mandi di sungai tersebut. Jangan salah sangka, saya tidak pernah secara sengaja melihatnya, lho…. J Jika musim hujan tiba, seperti beberapa bulan terakhir ini, permukaan air sungai bisa naik sampai hampir ke permukaan rumah penduduk dengan laju debit air yang mampu menghanyutkan semua benda yang dilaluinya. Saya jadi teringat peristiwa tsunami di Aceh pada tahun 2004 yang lalu. Meski tidak mungkin terjadi tsunami di Sungai Cikapundung, namun tidak menutup kemungkinan, jika kondisi sungai tidak segera diperbaiki, banjir suatu saat mungkin saja dapat menimpa Bandung Utara.

Peremajaan sungai Cikapundung diakui bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh kerjasama dari semua pihak untuk mewujudkannya. Pemerintah daerah, penduduk sekitar, mahasiswa, LSM, dan organisasi-organisasi peduli lingkungan lainnya harus serius dan konsisten memikirkan usaha peremajaan kondisi sungai Cikapundung. Pada kondisi ideal, menurut saya, semestinya pendirian bangunan di sepanjang bantaran sungai itu dilarang. Hohoho…kalau begitu, bagaimana nasib kosan saya, yah? Yah, paling tidak, untuk jangka pendek ke depan, saya sih berharap pemerintah bisa dengan tegas melarang pembuangan sampah oleh penduduk ke sungai dan tentu saja, kerjasama dari warga Bandung Utara juga memainkan peran yang sangat penting. Percuma aja peraturannya dibuat, kalau dilanggar kan? Tapi, susah juga sih kalau mengikuti prinsip “Peraturan dibuat Untuk Dilanggar”. Nah lho, apakah teman-teman termasuk yang memegang prinsip tersebut? Mudah-mudahan tidak, ya. Mestinya, sebagai mahasiswa, kendati tidak ada peraturan yang melarang pembuangan sampah ke sungai, bisa memberikan contoh yang baik ke masyarakat…Saya yakin itu…

The last, tentunya, kita semua ingin kelak kondisi sungai-sungai yang berada di Indonesia seperti kondisi sungai yang ada di Eropa atau belahan bumi yang lain yang sudah lebih sadar terhadap lingkungan. (Wuahahaha….Kayak saya sudah pernah ke Eropa atau belahan bumi yang lainnya aja. Yah, doakan saja suatu hari kelak saya akan menyaksikan kondisi sungai di sana secara langsung J). Mereka saja bisa, mengapa kita yang sebagian besar penduduknya beragama Islam dan meyakini ayat Al-Quran yang tercantum di awal tulisan ini tidak bisa. So, tentunya ini menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia secara umum dan umat Islam di Indonesia secara khusus.

Anda tertantang? Mulai sekarang, marilah kita cintai lingkungan sekitar kita dan terapkan “3M: Mulai dari Diri Sendiri, Mulai dari Hal Kecil, dan Mulai dari Sekarang .“(Aa Gym)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: