Satu Cangkir Penuh Untuk Persahabatan

“Satu cangkir penuh untuk persahabatan, Fah. Ga kurang, ga lebih”, tegasku pada Ifah saat kami dalam perjalanan pulang menuju gerbang belakang kampus siang itu.

Gara-garanya sederhana. Tapi cukup prinsip buatku.

Aku berjalan terburu-buru menuju kampus. Pagi itu, ada kelas mata kuliah dari lab PSKE. Lebih tergesa-gesa lagi karena sesuai urutan, pagi itu seharusnya aku dan kelompokku mendapat giliran presentasi tugas ergonomic assesment. Peraturannya, kami dilarang masuk jika terlambat.

Sesuai dugaan, aku terlambat tiga menit. Aku ingat sekali karena waktu itu aku sempat melirik ke jam dinding di ruang asisten. Tanpa menyerah, aku mencoba keberuntunganku. Kupikir, toh aku belum terlambat lebih dari 10 menit sebab minggu lalu beberapa anak masih dipersilakan masuk sebelum lebih dari 10 menit. Lagipula saat itu kuliah belum dimulai.

Saat aku mencoba mengetuk-ngetuk pintu kelas, datang temanku yang juga terlambat.

“Eh, gimana nih boleh masuk ga ya?”

“Ga tau juga, sih. Kita coba aja yuk. ”

“Kita lewat pintu yang satunya aja deh.”

Lalu kami segera menuju ke pintu ruang seminar yang berada di dalam ruangan dosen.

“Permisi. Pak, kami boleh masuk?”

“Ehm…gimana ya? Saya khawatir kalau saya persilakan kalian masuk, akan terasa tidak adil bagi yang datang terlambat di kesempatan berikutnya. Saya serahkan saja keputusannya ke teman-teman kalian, deh. Jadi, bagaimana kalian setuju tidak kalau saya persilakan teman-teman kalian yang datang terlambat ini masuk. Tapi hanya for this occasion saja, ya..”
“Yak, silakan angkat tangan yang setuju.”

Awalnya, Siiiiiiiiinnnnnnnnng. Ga ada satu pun tangan yang terangkat. Sepertinya masih tidak menangkap maksud dari pertanyaan Bapak Dosen. Sampai akhirnya, beliau mengulangi kembali pertanyaannya.

Ada lima orang yang mengangkat tangan. Sisanya diam. Terdesak antara perasaan tidak setuju dengan “ga enak” pada kami yang terlambat. Akhirnya, lima orang dari mereka mengacungkan tangannya. Tanda tidak setuju.,

“Yak, keputusan tinggan di tangan si Fulan nih. Apa keputusan kamu?” tanya Pak Dosen lagi.

Aku sudah dapat menduga jawabannya. Aku tau tipe orang dengan macam pemikiran sepeti apa si fulan yang menjadi penentu keputusan tersebut. Akhirnya, yak like my prediction, keputusannya: kami , aku dan dua orang temanku tidak diperbolehkan masuk.

That’s really fair decision. Woow…unbelievable! Teman-temanku ternyata pembela kebenaran, ya…

Well, yah…hal yang bikin aku tidak bisa terima keputusan itu adalah karena salah tiga dari orang-orang yang menyatakan ketidaksetujuannya adalah teman-teman dekatku. Uuups, atau mungkin mesti aku ralat ya sebutan ini. Hehehe….

Kalau saja Bapak Dosen yang memutuskan bahwa kami tidak boleh masuk ke dalam kelas, kami, khususnya aku, akan dengan lapang dada menerima kenyataan tersebut. Yah, kami memang salah sih. Lagipula, itu kan memang hak Bapak Dosen. Tapi, ketika keputusan itu datang dari orang-orang yang kupikir sahabatku, aku tak bisa terima.

Aku pikir, tidak ada ruginya mengizinkan kami masuk. Apakah keputusan mereka itu dalam rangka membela kebenaran? Wah, kalau begitu sih saya setuju sekali. Atau ada hal yang lain? Aku benar-benar tidak mampu memahami jalan pikiran mereka.

Usai kelas mata kuliah tersebut, aku bilang pada salah seorang dari orang yang kusebut sahabat jauh hari sebelum peristiwa ini terjadi.

“Lo bilang ga stuju ya. Kalau elu yang ada di posisi gw, gw akan bilang stuju. Masalahnya, kalau bapak yang memutuskan, gw akan terima dengan lapang dada. Tapi, gw ga terima kalau itu kalian.”

Setelah mengatakan itu tubuhku benar-benar gemetar dari ujung kaki hingga kepala. Aku merasa menjadi orang terjutek sedunia.

“Lo baik banget sih?”

Aku malah sempat melontarkan sindiran seperti itu kepada teman yang lain lagi.

Sejujurnya aku kecewa. But, thanks God…aku jadi tau teman seperti apa mereka. Bagiku, selama dalam koridor kebenaran, selalu”Secangkir penuh untuk persahabatan”.

Lah, yang terjadi tadi ada dalam koridor kebenaran ga ya? Halaaaah….

Oya, tapi saya jadi berpikir…apa masih secangkir penuh lagi yah buat “mereka” setelah insiden pagi itu?

2 Tanggapan to “Satu Cangkir Penuh Untuk Persahabatan”

  1. novi Says:

    kalau novi percaya, selalu ada secangkir penuh untuk persahabatan. walau kadang, isinya berkurang sedikit krn perbedaan persepsi, kecewa, dsb. tapi insyaAllah akan kembali terisi dengan keikhlasan dan saling memahami.

    kaloi aku jadi temenmu itu, aku pilih apa ya? dong dorongdong😛

  2. ayu Says:

    yah, sama aku juga pernah. walaupun kejadiannya ga begitu. alangkah sakitnya, ketika kita tau temen yang udah kita anggep sahabat ternyata ga pernah berpikir yang sama dgn kita (ga pernah berpikir kalo kita sahabat dia). padahal kita udah hampir gila mikirin mereka. wah kalo udah gitu, kerjain hal yang lebih penting dari mikirin mereka.Hanya Allah yng selalu ada di deket kita, susah seneng, dimana aja kita berada. Apa lagi yang harus kita ragukan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: