Malu Bertanya Sesat Di Jalan, Banyak Bertanya….Jangan-jangan Bodoh

Sedikit tergelitik dengan pesan yang disampaikan oleh (lagi-lagi…:p) seorang dosen saya suatu ketika, saat kuliah. Entah mengapa tiba-tiba topik bahasan Bapak Dosen bergeser ke masalah bagaimana mendidik anak dengan baik. Beliau berpesan agar jika kami telah berkeluarga kelak dan memiliki anak-anak penyejuk jiwa…jangan pernah mematikan kreativitas dan daya kritis anak dengan melarangnya banyak bertanya, meski seringkali kita telah merasa bosan mendengarnya…

Saya jadi teringat sewaktu saya duduk di kelas 4 SD dahulu. Saya termasuk anak yang sedikit-sedikit bertanya. Saya yakin pasti guru saya saat itu sudah merasa bosan sekali atau mengambil jalan berpikir saya saat itu, Ibu Guru ingin membuat saya lebih percaya diri dan mandiri dalam mencari tahu mengenai segala sesuatu. Suatu ketika, saya maju ke depan kembali dan langsung bertanya. Sejujurnya saya benar-benar tidak menduga dengan jawaban ibu guru saat itu. Saya selalu berpikir bahwa ibu guru pasti akan selalu menjawab pertanyaan saya. Saya tidak menyangka sekali, saat itu Ibu guru berkata pada saya, “Reni, kamu jangan bertanya terus. Ibu yakin kamu sudah mampu. Jawaban kamu benar kok.”

Memang masa-masa itu saya sedang senang meyakinkan jawaban soal-soal yang saya kerjakan pada ibu guru. Setelah mendengar jawaban dari ibu guru tadi, saya jadi merasa sangat bodoh sekali. Sejak saat itu, saya malas bertanya kembali. Bahkan hingga saat ini, persepsi tersebut masih terbentuk. Saya selalu merasa khawatir bahwa pertanyaan saya akan terkesan bodoh dan suatu saat mungkin akan ditegur oleh orang lain. Jangan-jangan dengan cara yang lebih menyakitkan dari ibu guru saya saat itu. Yah, terlepas dari keinginan ibu guru agar saya lebih percaya diri, saya rasa cara menegur yang terkesan frontal pada anak usia 9-10 tahun saat itu adalah kurang bijak. Ditambah lagi dengan budaya di masyarakat kita yang cenderung kurang memacu anak-anak untuk tumbuh kreatif dan fokus pada detail, saya rasa akan semakin sulit membentuk generasi-generasi bangsa yang kritis.

Nah, buat teman-teman yang sudah menikah, akan mempunyai putra/putri, atau yang masih single dan insya Allah suatu saat nanti menikah dan berkeinginan mempunyai putra/putri juga, saya rasa pesan dari Bapak Dosen saya tersebut perlu diingat. Jangan pernah mematikan kreativitas dan daya kritis anak dengan melarangnya banyak bertanya, meski seringkali kita telah merasa bosan mendengarnya…

Be good parents…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: