Susahnya menghilangkan amarah

Manusia itu manusiawi sekali jika pernah merasakan amarah. Namun, sebaik-baik manusia adalah ia yang dapat mengendalikan amarahnya. Dan…ternyata menahan amarah itu tidak semudah mengetikkan pesan sms melalui handphone (note: biasanya tidak berlaku untuk kakek, nenek, atau bahkan orang tua kita. Hihihi…oya ga berlaku juga buat yang ga punya handphone atau handphone nya lagi rusak). Kenyataannya bicara memang tidak semudah pelaksanaannya. Jadinya, kalau yang cuma bisa berteori akhirnya disebut OM DOEL (Omong Doang, Lu!!).

Nah, menahan amarah ini adalah salah satu dari banyak banget kelemahan saya. Ck…ck…ck…begini ngaku-ngaku muslimah, nih! Astaghfirullah…

Kesulitan dalam menahan amarah itu adalah kesulitan untuk mengendalikan agar amarah yang kendatinya sudah mendidih dan buihnya udah sampai ke ubun-ubun tidak meluap dan tumpah kemana-mana. Soalnya, kebayang donk kalau sampai tumpah kayak gimana. Yang pasti wajah saya yang cantik (hihihi,,,boleh donk narsis dikit. Ini kan blog saya..Hayo!! Siapa yang ga bisa terima?) bakal meleleh deh. Hiiii…ga kebayang. Belum lagi kalau tumpahannya itu mengenai bagian tubuh yang lain dan bagian tubuh orang lain yang ada di sekitar kita. Wah…tambah berabe. Wajah cewek cantik (ada gitu…?) atau cowok ganteng yang ada di sekitar saya dijamin ikut meleleh juga. Amarah akan membakar, melahap apa saja yang ada di dekatnya hingga tak bersisa seperti api yang membakar rumah-rumah beratap rumbia.

Saat amarah datang menyergap dan menguasai hati serta pikiran, saya mencoba mengingat pesan Rasulullah SAW. Yang intinya adalah “Jangan marah…Jangan Marah…Jangan Marah.” Terus Beliau SAW juga berpesan yang intinya begini “Jika engkau marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika dalam keadaan duduk belum hilang juga, maka berbaringlah.” Nah, masalahnya begini…suatu saat saya sedang marah sekali karena sesuatu hal. Aduh…pokoknya ga enak banget deh. Rasanya hati dan pikiran saya mendadak seperti dipenuhi barang-barang ga penting dari gudang tetangga. Penat dan sumpek sekali. Panas pula. Kemudian yang saya lakukan adalah mencoba untuk diam dan menghindari orang-orang. Yah, khawatirnya amarah yang udah mendidih di ubun-ubun saya tiba-tiba meluap dan mengenai orang-orang di sekitar saya. Saya masuk ke kamar. Kemudian duduk. Mencoba berpikir positif. Mencoba untuk tenang. Mencoba tersenyum. Tapi, anehnya bibir saya menjadi beku. Sulit sekali menariknya ke arah samping untuk menghasilkan senyum. Sulit sekali. Sementara itu, gumpalan-gumpalan awan hitam di hati saya belum juga mereda. Masih bergemuruh. Astaghfirullahal’azhim. Saya mencoba beristighfar. Tapi, masih juga belum mampu meredam amarah saya. Hingga saya teringat sesuatu hal. Sebenarnya saya adalah tipe orang yang saat marah, harus meluapkannya secara fisik. Entah lewat kata-kata dan atau perbuatan (mohon jangan berpikir yang tidak-tidak). Saya berpikir, saya tidak mungkin dan tidak akan berteriak. Saya harus bisa mengendalikan diri saya. Akhirnya, saya hanya punya satu pilihan. Saya melirik sekitar…ada tumpukan file referensi TA di samping saya. Saya harus melakukannya. Kalau tidak tidak akan selesai-selesai. Saya lempar tumpukan file itu ke arah dinding. Bertaburan semua lembaran-lembaran file itu. Tidak puas sekali, saya lempar sekali lagi. Tambah berantakan semuanya. Secara refleks, saya yang saat itu sedang duduk bersimpuh di depan dipan tempat tidur, mengepalkan tangan kemudian mengayunkan pukulan ke papan dipan tempat tidur tersebut sekuat tenaga. Kemudian emosi saya meluap. Namun bukan dalam bentuk tumpahan air panas yang mendidih berasal dari ubun-ubun. Emosi itu meluap melalui air mata. Saya menangis sejadi-jadinya dalam diam. Saya beristighfar dan merasakan bahwa istighfar saya benar-benar bermakna. Saat itu juga amarah saya hilang. Hilang menjadi sebuah penyesalan, mengapa harus marah. Dan…saya kembali dapat berpikir jernih.

Marah saya mereda, namun ada hal yang saya pertanyakan. Saya ini seorang wanita, seorang muslimah. Tetapi, mengapa untuk meredakan amarah, saya harus menyalurkannya secara fisik. Terutama dengan memukul (tentu saja bukan orang…kasihan juga kalau orang. Jadi, sasaran kemarahan saya). Dan…entahlah saya sendiri masih belum bisa memahami. Saya ingin mengubah kebiasaan tersebut. Saya ingin cara menyalurkan amarah yang lebih elegan, lebih feminim gitu looh…Ah, entahlah.

Ketika saya bilang ke salah seorang teman saya tentang kebiasaan saya tersebut, dia bilang: “Semoga kamu mendapatkan seorang suami yang sabar”. Ha? Saya jadi semakin berpikir betapa parahnya saya. Saya amini doa teman saya. Tapi, saya tetap ingin berubah. Hanya pertanyaannya adalah apakah kebiasaan itu salah? Entahlah…Mungkin saya perlu menanyakannya pada murobbi saya.

Oya, tentang file referensi TA yang saya hamburkan, sudah saya rapikan kembali. Hihihi…berani berbuat harus berani bertanggung jawab donk. Tentang tangan yang saya gunakan untuk memukul, jangan khawatir alhamdulillah tidak menyisakan sakit. Soalnya saya pake teknik karate. Jadi, ga sembarangan. Peace…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: