Majapahit Punya Gajah Mada, Indonesia Punya Siapa?

Sebenarnya siapa sih Gajah Mada itu? Sehebat apakah ia hingga masih banyak dikenang orang sampai saat ini? Namanya banyak diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia bahkan menjadi nama dari salah satu perguruan tinggi  terbaik di negeri ini. Kalau saat SMP dan SMA teman-teman menyimak pelajaran Sejarah dengan baik, insya Allah tahu siapakah Gajah Mada itu. Hanya, saya jamin mungkin sedikit dari teman-teman yang tahu cerita detail mengenai Gajah Mada. Nama Gajah Mada mungkin perlu diingat sekadar untuk menjaga agar jika saat ujian ada soal yang keluar berkaitan dengan tokoh tersebut, teman-teman (termasuk saya juga sih…J) bisa mengerjakannya.

Jadi, siapakah Gajah Mada itu? Gajah Mada atau dengan gelar kerennya Mahamantrimukya Amangkubumi Mahapatih Gajah Mada adalah seseorang yang punya andil paling besar terhadap kekuasaan sebuah kerajaan di masa lampau yang luas wilayah kekuasaannya hampir sama dengan Nusantara saat ini (dari Sabang sampai Merauke) bahkan meliputi Singapura (Tumasek) dan Malaysia. Sebuah kerajaan yang dengan harga diri dan keberaniannya pada masa lalu pernah mempermalukan seorang utusan dari bangsa Tar tar yang kala itu sangat berambisi untuk meluaskan kekuasaannya hingga ke bumi pertiwi. Kerajaan apakah itu? Ialah Majapahit. Sebuah kerajaan yang rajanya berasal dari trah penguasa sekaligus pendiri kerajaan Singosari, yaitu Ken Arok. Untuk nama Ken Arok ini pasti banyak teman-teman yang ingat dengan kisahnya (kalau saya sih, begitu dengar nama Ken Arok, langsung teringat Ken Dedes… hehehe).

Jadi, sebenarnya, apa sih istimewanya seorang Gajah Mada? Gajah Mada awalnya hanyalah seorang prajurit biasa yang tidak memiliki kedudukan istimewa di Majapahit. Ia mulai dikenal saat berpangkat bekel dan menjadi pimpinan dari sebuah pasukan elit kerajaan bernama Bhayangkara (Hayooo!! Ada yang berhasil menghubungkan nama ini dengan sesuatu?). Pada masa itu, Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Sri Jayanegara sedang mengalami kudeta akibat makar yang dilakukan oleh para Dharmaputra Winehsuka yang dipelopori oleh seseorang bernama Ra Kuti. Gajah Mada yang kala itu belum dikenal oleh siapa pun mampu menunjukkan bakti dan kesetiaannya kepada negara dengan melindungi Sang Prabu dari kejaran pasukan yang dipimpin oleh Ra Kuti. Bersama pasukan Bhayangkara yang dipimpinnya, akhirnya ia berhasil menggullingkan kembali Ra Kuti yang pada masa itu sempat menguasai Istana Kerajaan dan bahkan membunuhnya. Karena jasa dan pengabdiannya itu, Prabu Sri Jayanegara kemudian menaikkan pangkatnya dari yang semula hanya seorang Bekel menjadi seorang Patih di Kahuripan kemudian di Daha.

Kisah terus berlanjut hingga akhirnya Sang Prabu meninggal karena diracun oleh seorang tabib kerajaan yang diam-diam menyimpan sakit hati akibat cintanya pada salah seorang sekar kedaton adik dari Sang Prabu ditampik. Selama setahun, untuk meredam gejolak, Gajah Mada menyarankan agar kekuasaan dipegang terlebih dahulu oleh Ibu Suri Rajapadni sebelum akhirnya diwariskan kepada kedua putrinya secara bersamaan, ialah Prabu Putri Sri Gitarja Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Karena prestasi dan pengabdiannya, pada masa kepemimpinan kedua Prabu Putri tersebut akhirnya ia ditunjuk untuk menggantikan mahapatih sebelumnya, yaitu Mahapatih Arya Tadah. Saat ditunjuk itulah, Gajah Mada kemudian menyatakan sumpah Hamukti Palapa nya. Sejak itu, kehidupan Gajah Mada jauh dari gebyar duniawi demi satu cita-citanya, menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Majapahit.

“Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa. Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.” (Gajah Mada Madakaripura Hamukti Moksa, Langit Kresna Hariadi, 2007)

Dengan membaca kisah tersebut, kita sebagai bangsa Indonesia bisa sedikit berbangga. Kita pernah menjadi sebuah bangsa yang hebat di masa lalu. Semua itu karena peran seseorang dengan visi, seperti Gajah Mada. Saya jadi teringat dengan satu-satunya mata kuliah, selain Tugas Akhir yang saya ambil semester ini, yaitu Berpikir Visioner. Dosen saya dalam kelas tersebut bercerita tentang berbagai negara dan organisasi yang berhasil maju dan memiliki nama di dunia karena memiliki orang-orang yang bervisi jauh ke depan. Tidak sekadar bervisi saja, tapi juga diikuti dengan tindakan dan komitmen. Vision without action is dreaming. Action without vision is “tukang”..hehehe…J

Gajah Mada yang pada masa itu belum mengenal istilah visi, nyatanya jauh lebih memahami visi itu sendiri. Ia mampu membayangkan ke depan akan dibawa kemana negara Majapahit yang diasuhnya tersebut.

Vision is a reality that has not come yet come to be; it is not a dream. Vision of future is more than just a plan or a goal, it is a picture of what the future should and could like; plans and goals operate as vehicles for making that picture a reality.”

Visinya menginspirasi Gajah Mada dan bahkan menyebabkan ia rela menukar kebahagiannya di dunia demi tercapainya visi tersebut. Ia memilih Hamukti Palapa dan meninggalkan Hamukti Wiwaha hingga akhirnya Hamukti Moksa. Andaikan kita memiliki Gajah Mada-Gajah Mada yang lain di bumi pertiwi ini…Gajah Mada-Gajah Mada muda yang bervisi dan memiliki loyalitas pada bangsa dan negaranya. Yang mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi (PPKn banget, yak…?). Saya yakin kejayaan Majapahit pada masa itu bisa kita peroleh kembali.

Well, ada banyak pelajaran dan nilai-nilai yang bisa dipetik dari kisah Gajah Mada. Jika merasa tertarik menyimak kisahnya secara lebih mendetail, baca saja bukunya. Judulnya Gajah Mada. Pengarangnya Langit Kresna Hariadi. Ada lima seri loh. Termasuk kisah tentang Perang Bubat. Dijamin pasti akan banyak tercengang dan berdecak kagum. Sungguh, menurut saya, Indonesia benar-benar membutuhkan pemimpin yang berjiwa ksatria dan setia, seperti Gajah Mada. Kalau Majapahit punya Gajah Mada, Indonesia punya siapa…? Saya berharap itu adalah kita. Amiin…J Tapi kalau boleh milih, saya sih inginnya jadi sekar kedaton. Hahaha…=D

13 Tanggapan to “Majapahit Punya Gajah Mada, Indonesia Punya Siapa?”

  1. dian Says:

    aaaaaaaaaaaaaarghh! buku gw itu!
    gpplah… alhamdulillah memberi banyak manfaat

  2. patomi Says:

    wah..mau dong pinjem bukunya…kebetulan lagi mendambakan sosok gajah mada niy..hihihi..

  3. nursatwika Says:

    hmm…wah, yang punya si Dhian Mbak…bilang aja ke dia…hehe…itu aku juga numpang foto bareng bukunya…hihihi

  4. Nalino Ngureres Says:

    GAJAH MADA TERNYATA ORANG DAYAK

    Soal nama Gajah Mada menurut masyarakat Dayak di Kalbar perlu diketahui bahwa Gajah Mada bukan orang Jawa, ia adalah asli orang Dayak yang berasal dari Kalimantan Barat, asal usul kampungnya yaitu di Kecamatan Toba (Tobag), Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat (saat ini).

    Banyak masyarakat Dayak percaya bahwa Gajah Mada adalah orang Dayak, hal itu berkaitan dengan kisah tutur tinular masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio yang menyatakan Gajah Mada adalah orang Dayak. Ada sedikit perubahan nama dari Gajah Mada pada Dayak Krio menjadi Jaga Mada bukan Gajah Mada namun Dayak lainnya menyebutnya dengan Gajah Mada.

    Sebutan itu sudah ada sejak lama dan Gajah Mada dianggap salah satu Demung Adat yang hilang. Ada kemungkinan ia diutus Raja-Raja di Kalimantan. Ia berasal dari sebuah kampung di wilayah Kecamatan Toba (saat ini). Hal itu dibuktikan dengan ritual memandikan perlengkapan peninggalan Gajah Mada setiap tahunnya. Gajah Mada dianggap menghilang dan tidak pernah kembali ke Kalimantan Barat.

    Kisah yang memperkuat bahwa ia memang asli Dayak dan berasal dari Kalbar yaitu ia adalah seorang Demung Adat dibawah kekuasaan Raja-Raja di Kalimantan. Ia seorang Demung dari 10 kampung yang ada, namun setelah dia menghilang entah kemana, kampung tersebut kehilangan satu Demung Adatnya sehingga Demung Adat di wilayah itu tinggal 9 orang saja lagi.

    Kisah ini sampai sekarang masih dituturkan oleh kelompok masyarakat Dayak ditempat asalnya Gajah Mada. Bukti-bukti tersebut sangat kuat dan bisa dibuktikan sebab Kerajaan tertua letaknya bukan di Jawa tetapi justeru di Kalimantan sehingga unsur Hindu lebih mempengaruhi setiap sikap dan tata cara hidup dan Hindu pun lebih dulu ada di Kalimantan bukan di Jawa. Alasan ini sangat masuk akal bahwa pengaruh Hindu di Jawa sangat dipengaruhi oleh kerajaan Kutai di Kalimantan dan kemungkinan Gajah Mada adalah orang kuat yang diutus kerajaan Kutai untuk menjajah nusantara termasuk Jawa.

    Dalam kisah Patih Gumantar Dayak Kanayatn (Dayak Ahe) Kalimantan Barat bahwa Patih Gajah Mada adalah saudaranya Patih Gumantar, mereka ada 7 bersaudara. (Baca Buku, Mencermati Dayak Kanyatan)

    Satu lagi soal nama Patih Gajah Mada bahwa gelar Patih itu sendiri hanya ada di Kalimantan khususnya Kalbar dan satu-satunya patih di Jawa adalah Gajah Mada itu sendiri, tidak ada patih lain dan itu membuktikan bahwa gelar “Patih” berasal dari silsilah kerajaan di Kalimantan bukan dari Jawa

  5. nursatwika Says:

    @ Nalino Ngureres: wah, makasih sekali infonya…^^. Kalau apa yang Saudara sampaikan itu memang benar (soalnya saya sendiri bukan ahli sejarah…:p), berarti akhirnya misteri asal-usul Gajah Mada sedikit demi sedikit mulai terkuak. Karena dari kisah Gajah Mada yang ditulis kembali oleh Langit Kresna Hariadi, di sana juga dikatakan bahwa masyarakat kerajaan Majapahit sendiri saat itu tidak mengetahui siapa sebenarnya Gajah Mada itu, dari mana ia berasal, dan siapa saja keturunannya.

    Tapi, kalau menurut saya, tidak masalah dari mana ia berasal, Jawa atau pun Dayak…^^. Jawa adalah Indonesia, begitu pula dengan Dayak. Yang jelas, bangsa ini perlu belajar dari seorang Gajah Mada dengan visinya yang luar biasa.

    So, Kalau Majapahit Punya Gajah Mada, Indonesia Punya Siapa?

  6. eri kurniawan Says:

    Assalamu’alaikum
    Keep Istiqomah aje ukhti! (inget ma ane ga? Ituloh anak Kotabumi yang pernah ktemu Ibundamu di PPPPTK BP Jkt, Eri Kurniawan)
    Wassalamu’alaikum

  7. nursatwika Says:

    @ eri: wa’alaikumsalam wr.wb
    iya, saya masih inget kok…:)
    terimakasih sudah berkunjung ke blog saya…^^

  8. Irawan Says:

    Kalau kita bicara Gajah Mada sebagai patih Majapahit. Kita harus fokuskan pada Gajah Mada patih raja siapa. Gajah Mada patih raja Rajasanagara atau Gajah Mada patih raja Brawijaya V. Kedua tokoh itu sekalipun sama-sama menjabat patih namun hidup dalam kurun waktu yang berbeda. Gajah Mada patih raja Rajasanagara menurut Prapanca bukan pemersatu Nusantara. Gajah Mada pemersatu Nusantara adalah Gajah Mada patih Brawijaya V.

    Pada masa Brawijaya V penyerbuan tentara Majapahit ke Nusantara dilakukan. Penyerbuan itu untuk lebih memperkuat sendi kesatuan negara. Wajar bila hingga masa Demak, wilayah Demak masih sampai ke Malaka. Terbukti ketika Malaka diserang Portugis, Demak kemudian menyerang Portugis. Tindakan ini seperti Mataram menyerang Batavia yaitu pada masa lalu Batavia masih dibawah kekuasaan Mataram.

    Kebesaran Majapahit, ada karena Majapahitlah satu-satunya negara yang dapat menundukkan Dinasti Yuan di Asia. Perang antara Dinasti Yuan dengan Majapahit yang sebenarnya bertumpu pada perang dagang tidak hanya sekali tetapi beberapa kali dan semuanya dimenangkan Majapahit dalam catatan Odorico de Perdone.

    Sumber: Ebook ‘MELURUSKAN PENYIMPANGAN SISTEMATIS SEJARAH MAJAPAHIT’.

  9. Muharto Says:

    Alhamdulillah.., saya suka baca sejarah (tapi bukan ahli sejarah). Semakin banyak yang saya baca nampak-nya makin sedikit yang bisa dipercaya soal kebenaran suatu sejarah terhadap kisah/ peristiwa (masa lalu), walupun begitu saya tetap senang membaca sejarah.
    Perihal si Gajah Mada sebagai salah satu yang menjengkelkan.., mana sih yang benar mengenai asal dan lain2-nya sekitar peristiwa yang berkenaan dengan sepanjang kehidupan-nya termasuk perihal insiden Bubat. Sekali lagi, perkara mana yang benar atau yang paling benar di soal itu bukan lahjadi masalah.., justru saya makin terangsang untuk baca terus perihal sejarah, apa pun itu.
    Terima kasih.

  10. wahyu mz Says:

    saya pikr kisah gajah sangatlh memukau terutama kisah yang ditulis oleh langit kesna hariadi,
    saya punya usul nih!gimana kalo kisah gajah mada dibuat dalam sebuah film animasi karna dengan dibuat film masarakat akan lebih mengenal bgaimana kepahlwanan gajah mada terutama untuk generasi muda sehingga para generasi muda akan mengetahui bagaimana kehidupan gajah mada tidak hanya sebagai suatu tokoh dalam pelajaran sejarah tapi dalam kehidupan mereka

  11. Turunan Majapahit Says:

    Salut….masih muda tapi masih ingat jasa2 pendahulu sejarah. Tidak dapat dipungkiri kalau Gajah Mada adalah cikal bakal terbentuknya Nusantara. Masalah Perang bubad adalah fenomena alam pada waktu kerajaan jaman silam. dan itu adalah bagian dari sejarah juga. ambil semua hikmah yg pernah ada dan tauladani semangat beliau sebagai pengabdi yang loyal terhadap bangsa dan negaranya

  12. Supriyanto. AS Says:

    Numpang tannya…untuk mendapatkan buku-buku tentang gajah mada dmn? Soalnya di Gramedia ga ada. Trim

  13. nursatwika Says:

    ada di gramedia. jumat lalu, 22 oktober 2010, saya melihat salah satu serinya di gramedia plaza semanggi jakarta ^^

    tapi saya tidak terlalu memperhatikan itu seri yang mana. yang jelas covernya diperbarui… ^^

    selamat mencari .. ^^!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: